Menu float

BOM KALIGRAFI DI MTQ JABAR

Oleh Didin Sirojuddin AR
(Dewan Hakim Kaligrafi MTQ Jabar)

Tahun-tahun terakhir ini Jawa Barat benar-benar dianggap markas kaligrafi. Seolah-olah (walau memang benar!) para juara lomba kaligrafi dalam pelbagai event “harus” dari Jabar. Di MTQ Nasional, para khattat (kaligrafer) Jabar mendominasi. Bukti kadigjayaan itu berimplikasi pada bienalle Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam tahun lalu, di mana juara-juara I untuk empat kategori lomba seluruhnya disabet para pelukis kaligrafi Jabar.

            Jabar itu seperti arus bah yang tak terbendung. Bukan hanya menaklukkan para khattat atau kaligrafer lain. Yang “mencemaskan” pihak luar adalah juga “ekspansi”nya yang melanda ke mana-mana. Usai MTQ Jabar, “kesebelasan” juru lomba ini akan pabaliut ke Banten, DKI Jakarta, Lampung, Jambi, bahkan propinsi-propinsi paling timur Indonesia. Pikagugueun (bikin geli, Red.) mendengar nama Opik mewakili Pulau Dewata Bali dalam MTQ Nasional! Apalagi, saat muncul nama-nama lain bernada Priangan mewakili Maluku Utara, Kepri atau Papua. Para pelukis kaligrafi Jabar seperti “tidak ke mana-mana, tapi geuning ada di mana-mana”.

“Gula-gula” Jabar

            Ada sebab mengapa para kaligrafer Jabar menyebar ke mana-mana dan orang-orang  luar juga pada keukeuh ingin bergabung dengan Jabar. Selain jumlah kader dan potensi SDMnya yang besar, sebab pokoknya adalah karena Jabar menawarkan “gula-gula”.  Jumlah kabupaten dan kota yang menjanjikan naik haji bagi juara I Jabar terus bertambah. Bagi juara I MTQ Nasional, kemungkinan tiga tiket naik haji akan diraihnya sekaligus: dari LPTQ Nasional, dari Pemda Jabar, dan dari Pemda Kabupaten/Kota pengutus sang juara.

            Pengaruh “gula-gula” dan faktor Jabar yang selalu berbaris di depan, mendorong kekuatan-kekuatan berpadu di propinsi ini. Antrian peserta musabaqah, pertarungan yang keras, dan penyandang KTP luar yang berebut untuk bergabung, semua itu mendorong dihasilkannya kualitas estetis karya peserta. Kualitas karya khattat Jabar akhirnya sulit dipatahkan. Apalagi, MTQ tahunan secara aktif berlangsung di seluruh kabupaten dan kota, hal yang tidak selalu ada di propinsi lain. Seperti disengaja, lomba-lomba ini jadi ajang mengasah dan mengasuh pena dan kuas. Selanjutnya: eksodus pelomba dari dan ke kabupaten dan kota di Jabar mengalir bagai air!

            Para peserta lomba ini terus memburu “gula-gula”. Pemda juga tidak walakaya mengultimatum “putra daerah harus membela daerahnya”. Yang ada sekarang hanyalah “kesebelasan”. Para pelomba juga merasa tanpa karingrang untuk mengungkap kebebasan ekspresi dan pilihannya. Akhirnya, Pemda dan kalangan yang terkait dengan keinginan untuk menang harus balapan mencari kader unggulan dan bukan kader daerah. Pertarungan antar daerah pun semakin ramai!

            Dibandingkan di propinsi lain terutama luar Jawa, para kaligrafer Jabar berlari lebih kencang dan memiliki wawasan keMTQan lebih luas, tepatnya lebih cerdas dan intelek. Dalam penguasaan Musabaqah Khattil Qur’an mereka rata-rata memiliki bekal cukup meliputi pengetahuan (materi, aturan, dan metode lomba) dan pemahaman (dalam menentukan teknik/metode, prosedur, konsep  3 golongan lomba, kaidah khat, dan unsur rupa berupa teori warna, teori garis, unsur komposisi, unsur bentuk, ornamen dan arabesk). Bekal pengetahuan dan pemahaman ini dapat diterapkan untuk mengolah karya yang akurat, yaitu Naskah yang benar dan indah dan Hiasan Mushaf dan Dekorasi yang sempurna aksara dan ornamennya sekaligus.

            Kecerdasan lain nampak pada kemampuan pelomba kaligrafi Jabar menganalisa dan mengevaluasi sendiri karya yang dibuatnya. Misalnya, mengenali kesalahan dan kekurangan, memperbandingkannya dengan karya-karya master hingga menganalisa struktur dasar karya master yang dianggap lebih benar untuk memperbaiki kesalahan atau menyempurnakan kekurangan. Akhirnya, mereka dapat menilai hasil karyanya “baik” atau “buruk” berdasarkan norma-norma penjurian. Jika masih dianggap buruk, diusahakan penyempurnaan dengan meningkatkan latihan-latihan pra lomba.

            “Gula-gula” Jabar teh beneran manis. Hasrat untuk mengemutnya mendongkrak semangat para pecinta kaligrafi berguru kepada guru-guru kaligrafi Jabar yang menyebar di mana-mana. Guru-guru kaligrafi eks juara atau pembina nasional dan ASEAN seperti H. Ahmad Hawi Hasan, SAg, H. Isep Misbah, SAg, H. Arif Hamdani, H. Nurkholis, H. Uus Qusthalani Z, SAg, K.H. Imron Isma’iel Ahmad, M. Wasi, K.H.M. Faiz, K.H.M. Asmu’i Akhyar, K.H. Ma’ruf Mahmud, Hj. Ery Khaeriyah, MA, Dra. Hj. Yani Sumarjani, Drs. K.H. Wahidin Loekman, MSn, dan Drs. H. Didin Sirojuddin AR, MAg tidak pernah sepi dikurubut para khattat yang haus dan selalu nangkring atau  lalu-lalang di pusat-pusat pembinaan kaligrafi seperti Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) Jakarta, Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka Sukabumi, Griya Kaligrafi Al-Akhyar Cianjur, Sanggar Kaligrafi L’Jabar Bandung, Sanggar Kaligrafi Nuqthoh El-Jihad Karawang, dan Sanggar Kaligrafi Hilyatul Qur’an Bogor.

            “Gula-gula” yang dicampur hiruk-pikuk kegiatan para kaligrafer yang terutamanya nomadik (breg kaditu breg kadieu) menghasilkan karya seni yang merupakan kombinasi  antara bentuk dan fungsi. Selain menambah wawasan seni atau menjadi juara, para pelomba juga berhasil mengangkat kaligrafi jadi lapangan usaha yang menggiurkan.

Rahmatan lil Khattatin

            Hanya ada dua kemungkinan akibat perkembangan pesat kaligrafi di MTQ Jabar. Yang pertama, akibat positif di mana para khattat Jabar akan jadi rahmatan lil khattatin di Indonesia. Akibat kedua yang bersifat negatif (tapi juga akan membawa rahmat positif) berupa “pertempuran panjang” (melebihi persengketaan berebut Selat Ambalat) antar khattat dan antar Pemda yang keduanya merupakan “perebutan antar kepentingan” masing-masing.

            MTQ Jabar sebagai rahmat telah dibuktikan. Selain meningkatkan mutu karya dan memberikan banyak peluang kepada para khattat untuk kreatif, karya-karya mereka juga dijadikan referensi bahkan dijiplak para khattat luar Jabar. Foto-foto hasil MKQ Jabar, begitu MTQ usai, akan segera berada di tangan para khattat Jakarta, Banten,  Jateng, Yogyakarta, Jatim, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan seterusnya. Apa yang terjadi di Jabar diintip bahkan dijiplak habis orang luar. Dalam hal ini dapat disimpulkan, bahwa perkembangan pola dan gaya musabaqah kaligrafi di Indonesia waktu-waktu terakhir hampir mengamini sepenuhnya pola dan gaya  bahkan orientasi karya pelukis kaligrafi Jabar.

            Dalam perkembangan lebih dini lagi, hasrat  “memungut mantu” para khattat Jabar semakin kuat terutama oleh kawasan-kawasan lemah seperti Kalteng, Kaltim terus sampai ke timur lagi seperti Maluku dan Papua (meskipun mulai ada suara-suara penolakan seperti dari Lampung bahkan hampir pula Banten). Apa yang terjadi di sana bahkan di kawasan-kawasan lain, persis seperti apa yang terjadi di Jabar sendiri. Beberapa Pemda Kabupaten dan Kota di Jabar yang lebih memilih berebut “kesebelasan” khattat unggulan dari daerah lain daripada putra daerah sendiri yang lemah membikin para khattat daerah selamanya lemah, tersembunyi, dan tidak terbawa ke musabaqah. Dalam mempertahankan “yang penting juara”, baik Pemda maupun khattat seperti sedang meredih getih tepi ka pati (menuntut darah hingga ajal). Kemenangan benar-benar jadi tujuan al-awwalu wal akhiru, bukan pembinaan jangka panjang kader  daerah!

            Ledakan populasi dan semakin meningkatnya pengetahuan para khattat Jabar, tidak dipungkiri, memaksa beberapa kalangan seperti official, pelatih, dan Dekimda (Dewan Hakim Daerah) untuk mengup-grade pengetahuan huruf dan seni rupa yang sering keteter, kalah tajam, dan kalah kritis oleh pelomba. Ini berarti harus ada pelatihan-pelatihan kontinyu official, pelatih, dan Dewan Hakim khusus kaligrafi untuk mengimbangi tambah maraknya pelatihan-pelatihan peserta musabaqah yang dilakukan secara terstruktur oleh lembaga atau secara mandiri.

            Yang “membahayakan” adalah semakin berlepasannya para khattat unggulan Jabar ke propinsi lain, seperti berlepasannya kader kabupaten/kota ke kabupaten/kota lain di Jabar sendiri. Bukan tidak mungkin mereka akan jadi juara-juara yang mengalahkan Jabar.
            Tetapi ledakan-ledakan para khattat atau pelukis kaligrafi terus berdentuman dan moal bisa dicegah. Yang penting dan mendesak mah, arah pembinaan sekarang dan seterusnya tidak selalu harus untuk MTQ, melainkan semata untuk memakmurkan syiar Alquran. Lebih mendesak bagi Pemda Jabar dan unsur-unsur pecinta seni kaligrafi adalah membantu pesantren, lembaga, dan sanggar kaligrafi yang menyebar di Jabar. Biarkan Jabar jadi pusat kader dan markas kaligrafi yang memberikan rahmatan lil khattatin di Indonesia. Insya Allah.

*Bahan Dialog Pengembangan Kaligrafi MTQ Jabar XXVI Th. 2006, 21 April 2006, di Kota Bekasi   
Share on Google Plus

About Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment