20 April 1985 : Tujuan LEMKA dipaparkan dengan jelas tanpa ragu-ragu lagi, yaitu: “Pengembangan bakat dan pengenalan khazanah Islam” dengan usaha-usaha antara lain “Mempercepat proses pemasyarakatan seni menulis khat atau kaligrafi kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat muda, di tanah Air.”

06 Januari 2011

IBNU KHALDUN DAN KALIGRAFI ARAB (2)



 
Oleh: Iman Saiful Mu'minin

 
Membaca kitab Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun ini serasa saya sedang menjelajahi dunia sejarah dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, kenegaraan, dan kependidikan beserta metode-metodenya yang dipaparkannya secara teliti dan mudah dipahami

 
Gagasan pemikirannya dalam kaitannya dengan metode pembelajaran, misalnya, Ibnu Khaldun memaparkan tips-tips yang harus dicapai oleh para pelajar agar mereka memperoleh ilmu pengetahuan yang luas dan senantiasa malakah (melekat) dalam jiwa mereka. Di antaranya adalah menggunakan metode tadaruj, yaitu suatu metode pemerolehan pengetahuan atau pemahaman yang dilakukan secara bertahap, seperti pengulangan materi pelajaran sebanyak tiga kali.

 
Dalam hal ini, Ibnu Khaldun menyesalkan kebanyakan guru atau pembimbing pelajar tidak mengetahui metode pembelajaran serta cara perolehannya. Dengan secara serampangan mereka menyampaikan materi kepada murid-muridnya dengan uraian-uraian yang enjelimet serta membebani mereka dengan sejumlah materi tambahan lainnya. Ini berbahaya. Akibatnya, jika hal ini dilakukan, maka murid-murid akan cepat merasa bosan dan malas belajar. Untuk itu, menurutnya, penting sekali seorang pelajar mengetahui hal ini serta memahami materi sesuai dngan kemampuannya, kemudian mengulangi kembali materi pelajaran yang tela diperolehnya sampai malakah.

 
Tentunya gagasan yang telah dipaparkan Ibnu Khaldun di atas konteksnya mencakup pemerolehan pengetahuan secara umum. Dan metode ini bisa saja diaplikasikan pada cara penulisan kaligrafi Arab (khat). Seorang pelajar atau santri di samping harus mengetaui teori penulisan, juga mereka dituntut menerapkannya melalui metode tadaruj itu. Sebelum merasa yakin bahwa hurufnya itu indah, baik dan benar-dan ini tentunya setelah melalui proses latihan dan perenungan yang panjang serta pengoreksian dari guru atau pembimbingnya-ia tidak boleh beranjak ke penulisan huruf lain.

 
Ibnu Khaldun juga memaparkan dengan jelas, bagaimana seorang murid agar dapat menambah pengetahuan dan faedah, ia harus sering mendatangi sejumlah guru atau pembimbinbg belajar. Artinya, bertambahnya pengetahuan seorang murid ditunjang oleh seringnya berinteraksi dengan sejumah guru secara langsung (mubasyarah). Maksud itu tiada lain agar ada pihak yang bisa mengoreksi kesalahan atau kekeliruan suatu pemahaman atau pengetauan seorang murid. Dan juga, masih menurut Ibnu Khaldun, karena setiap guru atau pembimbing belajar kadang memiliki metode pembelajaannya masing-masing.

 
Ibnu Khaldun memberkan contoh perbandingan metode pembelajaran antara negara-negara yang berada di kawasan Maghrib (Barat) dengan negara Masyriq (Timur). Di Barat, menurutnya, para guru memberikan alokasi masa belajar bagi para pelajar ditentukan selama enam belas tahun, sementara di Tunisia (Timur) hanya membutuhkan waktu lima tahun. Lama belajar tersebut disebabkan para pelajar Barat pada masanya sangat sulit mernerima materi dan buruknya metode pembelajaran yang disampaikan para pengajarnya. Peradaban di Timur maju pesat, terutama bidang pranata sosial. Maka hal ini sangat menunjang dalam kelancaran proses kegiatan belajat mengajar (KBM)

 
Lancarnya kegiatan belajar mengajar dengan ditunjang oleh kedekatan interaksi antara guru dan murid serta latihan yang intensif dan konsisten memungkinkan tercapainya keberhasilan yang gemilang. Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah sudah siapkah kita melaksanakan semua itu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Wallahu a'lam