20 April 1985 : Tujuan LEMKA dipaparkan dengan jelas tanpa ragu-ragu lagi, yaitu: “Pengembangan bakat dan pengenalan khazanah Islam” dengan usaha-usaha antara lain “Mempercepat proses pemasyarakatan seni menulis khat atau kaligrafi kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat muda, di tanah Air.”

25 Januari 2011

Kreasi Baru Al Kholil Dan Pedoman Penulisan Al Quran


A. KREASI BARU AL KHOLIL

Sebenarnya, system yang digunakan al kholil masih berpegang teguh pada system penitikan tulisan hajjaj sebelumnya, akan tetapi menempatkan kembali titik-titik pembeda ala abul aswad untuk huruf-huruf yang bersamaan bentuknya ( misalnya untuk ba’ denga satu titik di bawah, ta’ dengan dua titik di atas dan tsa’ dengan tiga titik di atasnya ), bukan lagi untuk syakal atau harokat seperti sedia kala dan tidak lagi menggunakan garis-garis diagonal pendek yang di rumuskan nasr dan yahya dahulu. Dengan demikian, titik-titik tersebut berfungsi sebagai naqt atau I’jam persis seperti yang kita gunakan sekarang.

Adapun untuk menentukan bunyi huruf atau syakal/ harakat, kholil menggunakan tanda-tanda yang terambil dari huruf-huruf yang menjadi sumber bunyi-bunyi tersebut, yaitu:
* Alif sebagai sumber dari bunyi A ( fathah )
* Ya’ sumber dari bunyi I ( kasroh ) dan,
* Wawu sumber dari bunyi U ( dommah ).

Untuk tanwin, huruf yang bersangkutan di gunakan rangkap / doble. Huruf-huruf tersebut di buat lebih kecil dari pada huruf-huruf pokok tulisan. Dapat di katakan, kreasi kholil adalah Cuma “ meringkas “ huruf-huruf ‘illah yang tiga, yang terdiri dari alif, wawu dan ya’. Ini  terjadi pada akhir abad ke-2 hijriyah.

Pada puncaknya, tanda-tanda harokat / syakal tersebut berkembang menjadi 8 buah yaitu fathah, kasroh, dommah, sukun, jazam, syiddah, maddah, alamat silah dan hamzah. Tiga pertama adalah hasil rumusan kholil, sedangkan sisanya tercipta beberapa generasi sesudahnya.

Kreasi kholil tersebut menjadi dasar rumus-rumus atau tanda baca dalam tulisan arab yang terus berlaku sampai sekarang. Penyempurnaan yang luar biasa tersebut dapat di simpulkan sebagai berikut:

1.      alif kecil miring ( diagonal ) di atas huruf  = fathah
2.      ya’ kecil di bwah huruf = kasroh
3.      wawu kecil diatas huruf = dommah
4.      kepala sin di atas huruf = tasydid
5.      kepala kho’ di atas huruf = sukun
6.      kepala ‘ain di atas atau di bawah huruf = hamzah ( untuk hamzah qot’I ditaruh di atasa alif guna membedakan antar alif dan hamzah )
7.      alif, ya’, dan wawu di belakang huruf lain = huruf mad atau dibaca panjang
8.      naqt atau titik dibuat persis seperti titik sekarang.

Namun pada perkembangan selanjutnya, tanda-tanda tersebut menemui bentuknya yang lebih sedehana lagi. Untuk fathah dan kasroh tidak lagi di gunaka alif dan ya’,melainkan cukup dengan garis lurus miring ( diagonal )pendek seperti sekarang. Wawu untuk dommah hanya di ambil lengkungan bulatnya saja untuk bagian kepala, sedangkan untuk buntutnya digunakan garis miring berupa fathah atau kasroh. Demikian pula tasydid,sukun dan hamzah semakin lama bertambah halus betuknya.

Sistem hajjaj dan kholil segera meleburkan diri kedalam “ system tunggal “ yang saling melengkapi, walaupun hal itu sulit di gunakan bagi penulisan fan khufi kuno, namun ia digunakan juga pada masa dulu untuk tulisan khufi timur dan seluruh tulisan chursif. Ada kesepakatan pendapat, bahwa hasil tersebut mendapat pengaruh pada awal abad XI. Ia hidup terus ( survival ) dengan hanya sedikit sekali terjadi perubahan, dan pada umumnya di pakai samapi kini.

Hasil terakhir dari rumus-rumus kholil di atas akhirnya terus berlaku sampai saat ini dan menjadi warisan abadi bagi khazanah islam yang tiada ternilai harganya. Orang tidak akan kesulitan lagi membaca khususnya kitab suci al Qur an yang telah dilengkapi dengan rumus-rumus yang segera menjadi populer di mana-mana.

B. PEDOMAN PENULISAN AL QUR AN

Rumus-rumus tersebut sebenernya baru merupakan pengantar ke arah cara-cara membaca yang betul atas dasar bunyi-bunyi syakal atau harokat dan titik-titik yag disertakan kedalam pokok tulisan. Belum mencakup apa yang sekarang di sebut sebagai  “ titik-koma “untuk menentukan letak dimana bacaan seharusnya dihentihan atau boleh berhenti.

Karena itu, para ulama terus berusaha dengan gigih guna menyempurnakan pedoman penulisan al Qur an sampai batas dimana pembaca, baik yang faham atau bahkan yang tidak mengerti kandungan bahasa al Qur an, tidak akan merasa ragu-ragu lagi mengumandnagkan bacaan yang pas dan betul. Dari sini bermunculanlah kode-kode lain sebagai tambahan rumus-rumus pokok diatas, seumpama tanda-tanda waqof dan lain-lain.

Ditanah air kita sendiri di dirikan lajnah pentashih mushaf al Qur an, di bentuk pada tahun 1957 di bawah mentri agama KH.M.Ilyas. lajnah tersebut bertugas mengesahkan koreksian ( mentashih ) semua jenis mushaf yang asli ditulis di Indonesia maupun yang datang dari luar negeri dengan aneka ragam bentuk penulisannya.terakhir, diusahakan dengan gigih kearah setandardisasi mushaf al Qur an, yang berakhir dengan dikeluarkannya keputusan mentri agama, 4 april 1984,tentang penetapan mushaf al Qur an standart. Dengan demikian, bentuk tulisan al Qur an di Indonesia akan seragam.

* Disampaikan dalam diskusi seni budaya Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar, demi eratnya tali silaturahim kita...