20 April 1985 : Tujuan LEMKA dipaparkan dengan jelas tanpa ragu-ragu lagi, yaitu: “Pengembangan bakat dan pengenalan khazanah Islam” dengan usaha-usaha antara lain “Mempercepat proses pemasyarakatan seni menulis khat atau kaligrafi kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat muda, di tanah Air.”

07 Mei 2011

Hilmi Munawar, Pengajar Lemka Ajarkan Santri dari 17 Provinsi

SENI:Para santri Lemka belajar kaligrafi.
foto:jakasusila/radarsukabumi

Setelah setahun mengasah bakatnya sebagai seorang kaligrafer di Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka Kota Sukabumi, Hilmi Munawar (24) pun mulai mengerahkan kemampuannya untuk mengabdi sebagai seorang pengajar kaligrafi.Sejumlah santri yang datang dari seantero nusantara diajarinya.Hingga mereka berhasil menjadi kaligrafer.


Laporan, JAKA SUSILA, Sukabumi

Hilmi Munawar, mulai piawai dalam menulis khot (tulisan Arab indah) semenjak duduk di bangku kelas II MTs, Garut. Ketika itu pula,pada tahun 1999 diraihnya Juara I MKQ Tingkat Kabupaten. "Kemudian setelah menginjak kelas I SMA, pada MKQ yang diadakan oleh Nahdhatul 'Ulama (NU) se-Kabupaten Garut, alhamdulillah juara I juga," tuturnya kepada Radar Sukabumi saat ditemui di tempat mengajarnya, Pondok Pesantren LEMKA Kota Sukabumi. 

Setelah lulus SMA, selama setahun Hilmi belajar terlebih dahulu di pesantren. "Ya, sebelum ke LEMKA, saya sempat mesantren dulu setahun,"lanjutnya.  

Pada 2007, Hilmi mulai memperdalam pengetahuannya dalam seni kaligrafi di Pondok Pesantren LEMKA Kota Sukabumi.Dirinya pun menyambi kuliah di Universitas al Akidah Jakarta Timur. "Saya sambil kuliah kelas karyawan. Kuliahnya kan nggak tiap hari, jadi saya masih bisa fokus juga belajar kaligrafi. Ketika itu belajar bersama 114 santri dari 14 propinsi. Namun disayangkan, untuk santri dari Kota Sukabumi hanya 1 orang," ujarnya. Beberapa bulan kemudian, Hilmi meraih juara 3 ketika mengikuti MKQ se-Kota Sukabumi.Pada awal 2008, untuk tingkat Propinsi mewakili Kabupaten Bone pada MKQ yang diadakan di Makasar.

Pada pertengahan 2008, atas permintaan pendiri Lemka Didin Sirojudin, maka Hilmi pun mulai mengabdi sebagai pengajar. Ketika itu, santrinya berjumlah 87 orang. "Tadinya mau kuliah ke Malaysia, namun guru saya menginginkan agar mengajar di sini. Saya nggak kuasa menolak. Saya kan merasa dibesarkan di sini. Kami bangga, sebab LEMKA Kota Sukabumi adalah satu-satunya lembaga kaligrafi yang ada di Indonesia," sambungnya. Bersama 18 orang guru lainnya, saat ini Hilmi mengajari kaligrafi 64 orang santrinya. "Ya, kami diajari ustadz dengan alat tulis handam. Kami merasa senang karena santri-santri di sini berasal dari berbagai tempat, yaitu 17 propinsi," tutur salah seorang santri Zaki Mubarok.Disayangkan oleh Zaki, saat ini santri dari Kota Sukabumi nggak ada yang belajar di Lemka. "Sayang! sebagai pribumi kok pemuda dari Kota Sukabumi nggak berminat belajar kaligrafi di sini," pungkasnya.(*)

Sumber : http://www.radarsukabumi.com/index.php?mib=berita.detail&id=67033
Selasa, 15 Maret 2011 , 02:36:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar, demi eratnya tali silaturahim kita...