20 April 1985 : Tujuan LEMKA dipaparkan dengan jelas tanpa ragu-ragu lagi, yaitu: “Pengembangan bakat dan pengenalan khazanah Islam” dengan usaha-usaha antara lain “Mempercepat proses pemasyarakatan seni menulis khat atau kaligrafi kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat muda, di tanah Air.”

15 Agustus 2008

Catatan dari Jalur Gaza II (Terowongan Rafah)

Oleh :
 Mauluddin Anwar
(mauluddina@yahoo.com)

Terowongan Rafah.
Tiga hari pasca agresi, pusat kota Rafah, Jalur Gaza kembali menggeliat. Suguhan kare ayam dan daging sapi di sebuah rumah makan membuat perut saya tak lagi “berontak”. Tidak seperti aroma umumnya bumbu masak di Timur Tengah yang “menyengat”, racikan bumbu kare Rafah klop banget dengan selera lidah saya yang sangat Sunda. Jam makan siang, meja-meja dipenuhi warga Rafah. Alahmak, mereka juga dengan lahap menyesap soft drink Amerika, Coca-cola dan Pepsi! Benak saya langsung melayang ke aksi-aksi sweeping rumah makan waralaba Amerika oleh sejumlah demonstran di Tanah Air kala berdemo menentang agresi Israel. Kemarin, seorang pendakwah muda di Mesir juga dengan menggebu-gebu meyakinkan saya yang menyeruput Pepsi di siang bolong, bahwa Pepsi adalah akronim dari pay every penny to save Israel.
Perempatan Jabaliya
Jika sang pendakwah ini benar, maka sesungguhnya warga Rafah di depan saya tanpa sadar tengah bunuh diri, karena dari setiap kaleng Pepsi yang ia tenggak, ia ikut membiayai pembuatan bom Israel yang mungkin saja suatu saat akan menghajar rumahnya. “Kif dza hasol (kok, bisa-bisanya begini)?” Abu Hamzah, warga Rafah yang menemani makan, tersipu mendengar pertanyaan saya. “Tak ada yang salah dengan minuman itu. Yang keliru adalah kebijakan pemerintah Amerika,” jawaban Abu Hamzah membuat saya tertawa. “Saya akan sampaikan jawaban Anda pada para demonstran di Indonesia yang men-sweeping rumah makan Amerika.” Abu Hamzah manggut-manggut dengan mimik serius dan jempol tangan kanan teracung tanda setuju.

“Suf (lihat), tahukah Anda darimana daging yang kita makan?” Tanya Abu Hamzah. “Dari Amerika juga?” saya langsung menyambar. “Bukan, tapi dari Mesir. Sebagian besar daging kambing dan sapi yang dimakan warga Rafah dibawa kesini melalui terowongan. Bukan hanya daging, melainkan hampir semua barang kebutuhan pokok, hingga bensin dan gas, dipasok melalui terowongan.” Mulut saya menganga. Tadi sepanjang jalan di Rafah, saya memang menyaksikan toko-toko dengan beragam dagangannya, sebagian berstempel made in Egypt. Tapi saya tak menyangka barang-barang itu, seperti kulkas, tv, radio, dipasok melalui terowongan. Malah, menurut Abu Hamzah, daging yang diselundupkan masih berbentuk kambing dan sapi hidup, lalu disembelih di Rafah.

Memang hampir dua tahun warga Jalur Gaza diblokade Israel dari dunia luar. Tujuh pintu keluar melalui perbatasan Israel ditutup. Gerbang Rafah Mesir juga hanya sesekali dibuka, itu pun untuk kebutuhan mendesak saja, seperti warga yang sakit dan tak bisa ditangani rumah sakit di Gaza. Sehingga, praktis, warga Jalur Gaza terisolir sejak pemerintahan Hamas menguasai wilayah ini. Padahal, kehidupan warga dengan segala kebutuhannya mesti berjalan terus. Karena itulah, menurut Abu Hamzah, satu-satunya cara adalah dengan membuat terowongan-terowongan rahasia di perbatasan Rafah-Mesir, yang membentang 11 kilometer, kira-kira sejauh terminal Kampung Rambutan hingga Mampang Prapatan, Jakarta.

Saat agresi 22 hari, Israel membombardir rumah-rumah yang diduga memiliki terowongan rahasia. Pasca agresi, warga Rafah seperti tak jera, kembali mengais-ais terowongan yang
ambruk. Saya tidak sempat mendatangi salah satunya. Namun tabloid terbitan Hamas, Ar-Risalah, edisi 25 Desember 2008 – atau 2 hari sebelum agresi Israel, mengulas satu halaman penuh soal bisnis terowongan maut ini. Terowongan maut? Ya, karena untuk menggalinya, dibutuhkan keberanian melawan ancaman kontur tanah berpasir yang rawan ambruk, dan gas beracun yang bisa saja tiba-tiba muncul. Tapi karena menyangkut hajat hidup 1,4 juta warga Jalur Gaza, penggalian terowongan pun menjadi lahan bisnis menggiurkan sebagian warga Rafah yang berani menantang maut.

Menurut Ar-Risalah, rata-rata terowongan memiliki panjang 500 hingga 1.000 meter, membutuhkan waktu penggalian antara 4 hingga 6 bulan. Melibatkan 6-8 pekerja, dikepalai seorang pimpinan proyek. Setiap hari, bisa tergali antara 6 hingga 8 meter, dengan kedalaman 5 meter lebih dari permukaan tanah. Mau tahu berapa honor sang pekerja? Ini yang membuat ngiler. Sang pimpinan proyek bisa memperoleh 300 hingga 500 dolar perhari , sedangkan para pembantunya mendapatkan antara 30-50 dolar saja. Tugas sang pimpro memang berat: Selain menyediakan alat penggalian, juga harus matang menentukan arah penggalian dan menghindari tanah yang rawan runtuh. “Sudah banyak kawan kami yang terkubur saat menggali terowongan. Tapi kami akan jalan terus, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata seorang pimpro kepada Ar-Risalah.
Sedang bercerita tentang Gaza kepada anggota Lemka

Entah berapa puluh atau ratus terowongan di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir. Tidak ada yang tahu persis jumlahnya. “Kalau Anda hitung berapa barang-barang yang mengalir ke Gaza melalui terowongan itu, Anda bisa perkirakan jumlahnya,” kata Abu Hamzah. Saya tak bisa menebak-nebak. Yang saya lihat di sepanjang Jalur Gaza, hanya perkebunan buah dan palawijanya yang subur. Artinya, mungkin warga Gaza hanya bisa berswasembada untuk kebutuhan sayuran dan buah-buahan. Sedangkan barang-barang yang dijajakan di toko, mulai alat elektronik, alat sekolah, hingga kebutuhan rumah tangga, tak satu pun saya melihat pabriknya di Gaza. Tentu ada juga barang-barang yang diimport ke Gaza secara resmi melalui gerbang perbatasan. Tapi menurut Abu Hamzah, prosesnya sulit dan berliku, sehingga terowongan menjadi jalan pintas.


Selama 22 hari agresi, Israel membombardir rumah-rumah di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir, yang diduga memiliki terowongan. Israel menuding dari terowongan itulah Hamas mendapat pasokan senjata dari dunia luar, khususnya – menurut Israel -- dari Iran dan Suriah. Benarkah? “Siapa yang bisa menjamin tidak ada pasokan senjata melalui terowongan? Tapi terowongan bagi warga Rafah dan Gaza lebih penting dari itu. Terowongan adalah urat nadi hidup kami. Selama Israel memblokade Jalur Gaza dari dunia luar, bisnis terowongan akan kembali menjamur. Buka dulu blokade, lama-lama terowongan itu akan menjadi sejarah yang dilupakan warga Rafah.” Saya manggut-manggut mendengar jawaban Abu Hamzah.

Mauluddin Anwar
Ditulis untuk Blog Liputan 6

Oleh :
 H. Awan Mauluddin Anwar, S.Ag
(mauluddina@yahoo.com)


ini adalah oleh-oleh perjalanan Mauluddin Anwar, Produser Liputat6 SCTV yang juga salah seorang pengurus Lemka, dalam tugas meliput serangan Israel ke Jalur Gaza Palestina beberapa waktu yang lalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar, demi eratnya tali silaturahim kita...