20 April 1985 : Tujuan LEMKA dipaparkan dengan jelas tanpa ragu-ragu lagi, yaitu: “Pengembangan bakat dan pengenalan khazanah Islam” dengan usaha-usaha antara lain “Mempercepat proses pemasyarakatan seni menulis khat atau kaligrafi kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat muda, di tanah Air.”

23 September 2014

LEMKA Jalin Kerjasama Adakan Pameran Kaligrafi Islam Tionghoa


Restoran China-Islam "Sulaiman Resto" yang beralamat di Jalan Batu Ceper Nomor 73 Jakarta Pusat kembali memperkenalkan budaya Muslim China, seni kaligrafi. Acara dikemas dalam bentuk "Pembukaan Galeri Kaligrafi Islam-Tionghoa", Kamis, 15 Agustus 2014.


Kegiatan ini merupakan salah satu misi dari Sulaiman Resto untuk selalu memperkenalkan kebudayaan Muslim China kepada masyarakat Islam di Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, Sulaiman Resto yeng bekerja sama dengan Lembaga Budaya Nusaraya, Muslimtourchina, PITI, Yayasan Masjid Lautze, Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) dan Aditya Mangoen Production menghadirkan langsung ahli kaligrafi dari China, Abu Bakar Chang (36). Selain itu juga dihadirkan Direktur Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) H Didin Siojuddin AR.

Abu Bakar Chang (kanan) memberikan hasil karyanya kepada 
Direktur Lemka H Didin Sirojuddin (foto: shodiq/si)

Untuk keperluan pameran kaligrafi ini, Abu Bakar Chang memamekan sekira 50 buah kaligrafi karyanya. 

Menurut Roy Wong, pemilik Muslimtourchina, salah satu ciri khas dari Kkaligrafi China adalah warnanya yang hanya menggunakan warna hitam dan putih. Dikatakannya ini terkait dengan filosofi budaya China "Ying dan Yang", malam dan siang hari. Sebagai warisan budaya dinasti terdahulu, penggunaan warna-warni dianggap mengambil hak kaisar. Sebab penggunaan warna-warni hanya menjadi hak kaisar.
Sementara itu, Direktur Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) Didin Sirojuddin AR menjelaskan, dalam pameran ini LEMKA mengerahkan karya kaligrafi dari khatat  terbaik LEMKA, diantaranya karyanya beliau sendiri, karya, Kurnia Agung Robiansyah dan Ernawati.


Selain itu menurut H. Didin Sirojudin AR, seni kaligrafi sejatinya memiliki lebih dari 400 gaya. Tetapi kini tinggal tujuh gaya saja yang digunakan.


Kaligrafi China, kata Didin, menggunakan gaya Sinni. Gaya inilah yang dalam pameran kaligrafi ini ditonjolkan oleh Abu Bakar Chang.

 

 Abu Bakar Chang melakukan demo membuat kaligrafi dengan tulisan Basmallah. (foto: shodiq/si)



Dalam seni kaligrafi China harus terdapat tiga unsur, yaitu unsur-unsur yang diibaratkan sebagai tulang, daging dan jiwa. Dimana kemampuan dalam memahami tulisan, keindahan dan makna dari setiap goresan yang dibuat dalam tulisan tersebut.


Untuk dapat mempelajari kaligrafi China haruslah mengetahui juga dasar-dasar tulisan abjad China. Mulai dari mempelajari garis dasar, kemudian mengambil karakter dalam gaya biasa hingga mempelajari gaya kursif (penulisan bersambung).

Menurut Didin, sebagai salah satu seni Islam, kaligrafi dibawa ke negeri China dan kemudian mengalami adaptasi dengan budaya China.
Keindahan kaligrafi, ungkap Didin, bukanlah terletak pada fisiknya. Melainkan pada pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. "Yang hakiki itu pesan-pesannya, ada pesan keluarga sakinah, perjuangan, akhlak dan lainnya," jelasnya.

Kaligrafi Islam di Indonesia



Hasil karya Abu Bakar Chang yang dibuat di atas bahan kertas, 
Kaligrafi bertuliskan kalimat Basmallah. (foto: shodiq/si)




Di Indonesia, kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan. Tertera dalam makam Fatimah binti Maimun di Gresik, Jawa Timur (wafat 495H/1082), berbentuk kaligrafi gaya Kufi dan juga makam-makam lainnya sekitar abad ke-15.


Huruf Arab banyak dipakai untuk catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, pada mata uang logam, stempel, kop surat dan sebagainya. Huruf Arab yang dipakai dalam bahasa setempat diistilahkan dengan huruf Arab Melayu, Arab Jawa atau Arab Pegon.


Sebagian Kaligrafi Islam hasil karya pelukis LEMKA dan Abu Bakar Chang
 yang dipamerkan di Sulaiman Resto di Jalan Batu Ceper 73 Jakarta Pusat (foto: shodiq/si)


Termasuk juga untuk penulisan mushaf-mushaf Alquran tua dengan bahan kertas "deluang" maupun kertas murni yang diimpor. Kebiasaan menulis Alquran telah banyak dirintis oleh ulama-ulama besar di berbagai pesantren semenjak akhir abad XVI. Hal ini merujuk pada hasil penelitian kaligrafi Islam oleh Prof Dr Hasan Muarif Ambary.
red: shodiq ramadhan